poker online

Sekian Lama Menjanda Akhirnya Kulampiaskan Birahiku Kepada Pria Yang Baru kukenal

Sekian Lama Menjanda Akhirnya Kulampiaskan Birahiku Kepada Pria Yang Baru kukenal

batasberitaterkini.blogspot.com - Aku, Janda Tanpa Anak,Namaku Siska. Aku lahir dan dibesarkan di kota Medan. Usiaku 29 tahun, aku bekerja di sebuah bank swasta, Saat ini aku hidup sendiri. Aku pernah menikah, kurang lebih selama tiga tahun lamanya. Pernikahanku tidak dikaruniai anak. Aku bercerai, karena suamiku berselingkuh mantan pacarnya.

Untuk mengusir kejenuhanku selama kurang lebih dua tahun, aku selalu menghibur diriku dengan membaca. Kadang aku chatting, akan tetapi aku tidak berharaf untuk bertemu dengan teman chatting-ku. Aku masih trauma akibat perlakuan suamiku terhadapku.

Aku kenal beberapa orang teman chatting yang asyik untuk diajak bercanda ataupun berdiskusi, salah satunya adalah Arman. orang Jambi. Arman merupakan teman chatting-ku yang pertama kali yang pernah bertemu denganku.

Pada awal perkenalannya aku kurang respek terhadapnya, Cerita selanjutnya adalah pertemuan pertamaku dengan Arman yang berakhir ke sebuah hotel di sekitar jalan Juanda.

Hari itu, Minggu hari libur aku bekerja tanggal 28 Mei 2008, aku berjanji untuk bertemu dengan Arman di sebuah cafe pukul 10.00. Aku sengaja datang lebih awal  dan memilih tempat yang agak pojok agar aku dapat melihat dia terlebih dahulu. Aku memesan minuman, dan mataku tertuju terus ke arah pintu masuk cafe.

Sambil menunggu Arman datang, aku memperhatikan orang di sekelilingku. Aku merasa risih sekali, karena ada anak muda (usianya sekita 25 tahunan) yang duduk sendirian di meja sebelahku memperhatikan terus sejak pertama aku masuk cafe. Tapi aku cuek saja. Tepat pukul 10.30,, anak muda itu menghampiri diriku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Arman.

Aku kaget sekali, karena tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa Arman itu masih muda. padahal ketika chatting, dia mengaku berusia 33 tahun. Dan tentunya juga, selama aku berkomunikasi melalui telepon, suara Arman kelihatan seperti seorang bapak-bapak dan sangat dewasa sekali. Aku sangat grogi. Untuk menghilangkan rasa grogi, kupersilakan Arman duduk dan memesankan minuman.

“Maaf Bu Siska, saya berbohong kepada Ibu. Saya mengaku berusia 33 tahun, padahal usia saya tidak setua itu.

Tentunya juga, saya mohon maaf tidak memakai pakaian yang saya janjikan. Saya harus panggil siapa nih? Ibu atau Mbak atau Tante atau siapa ya?”

“Panggil Siska saja deh, biar lebih akrab,” jawabku.

Selanjutnya Arman bercerita, kenapa dia berbohong usia, juga aktifitasnya sehari-hari, begitu juga aku menceritakan aktifitasku dan kehidupan sehari-hariku. Aku tidak menyangka dari cara dia berkomunikasi sangat dewasa dan banyak dibumbui dengan kata-kata humor, sehingga aku dibuat terpingkal-pingkal olehnya.

Tidak terasa, waktu bergulir dengan cepat. Sekitar pukul 2 sore, Arman mengajak nonton bioskop. Aku tidak sungkan-sungkan, langsung mengiyakan saja. Sepulang nonton sekitar jam 7 malam, aku mengantarkan Arman pulang dengan mobilku. Ditengah perjalanan arman mengajakku untuk jalan agak lebih lama. Aku sih tidak masalah, karena di rumah pun aku hanya tinggal sendirian.

Di daerah sekitar sibolangit kami beristirahat dulu dan bercengkrama sambil menghabiskan minuman dan jagung bakar. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Akhirnya niat ke brastagi ku batalkan, Aku mengajak arman pulang saja. Dia pun mengiyakannya.

Sepanjang perjalanan pulang, arman mulai agak-agak nakal. Sambil bercerita, dia sudah berani mengelus-elus tanganku ketika aku sedang memindahkan perseneling. Pada awalnya kutepis, tapi bandel juga ini anak. Dia tidak pernah kapok, walau kutepis berkali-kali. Karena bosan dan tidak ada hasilnya kalau kularang, maka kubiarkan dia mengelus-elus tanganku.

Aku akui, elusannya itu membuat hatiku berdebar lebih cepat dari biasanya. Bahkan semakin lama elusannya semakin ganas, dan sudah mulai berani mengelus pahaku. Kubiarkan saja, dan aku tetap konsentrasi menyetir mobil.

Entah karena suasana yang mendukung, karena kami hanya berdua-duaan, ataukah karena kesepianku selama ini, karena sudah lama tidak dielus laki-laki. Aku membiarkan tangannya beraksi lebih jauh. Aku mulai merinding, dan darahku serasa panas menjalar seluruh tubuhku. Semakin lama, Aku semakin menikmati elusan tangannya.

Sekarang arman sudah sangat berani! Dia sudah berani memegang payudaraku. Aku mulai terangsang. Aku sudah tidak kuat lagi merasakan elusan tangannya. Akhirnya mobil kupinggirkan. Aku tanyakan arman, kenapa dia berani memperlakukanku seperti itu, padahal dalam hati aku pun menginginkannya.

Dia minta maaf, tapi tangannya tetap tidak mau lepas dari payudaraku. Aku tak kuasa menahan rangsangannya. Akhirnya kubalas elusan tangannya dengan sebuah ciuman di keningnya. Aku tidak menyangka dia menarik tubuhku, dan menciumi bibirku. Dia melumat bibirku, sampai-sampai aku sulit untuk bernafas.

Dia mulai berani menyelusupkan tangannya di kaos ketat unguku. Aku biarkan saja. Sungguh permainan yang indah, mulutku sudah tersumpal oleh lidah arman, dan tangannya pun begitu terampil mengelus-elus payudaraku. Bahkan putingku pun sudah dia elus.

Aku melenguh, “Sh.. ah.. sh.. ah.. sh.. ah..”

Tangan kirinya mulai turun ke arah pangkal pahaku. Aku geli sehingga menggerinjal. Tangannya mulai membuka reseletingku perlahan-lahan. Detik demi detik kurasakan tangannya mulai mengelus kemaluanku. Aku semakin keras mengeluarkan suara.

Dan akhirnya aku kaget, ketika ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan, menyorotkan sinar lampunya. Konsentrasiku buyar. Aku lalu membereskan reseletingku dan kaos ketat unguku. Begitu juga arman. Akhirnya permainan yang berlangsung sekitar setengah jam itu harus berakhir karena sorotan lampu mobil yang lewat tadi. Di sekitar selangkanganku terasa basah.

“Siska, maafin arman ya. Telah berlaku kurang ajar sama siska.”

“Nggak apa-apa koq man. Tapi saya bingung, kenapa koq kamu berani berbuat seperti itu
kepada saya. Padahal kamu kan jauh lebih muda dari saya.”

“Nggak tahu deh, sis. Mungkin saya mulai menyukaimu sejak pertemuan kita di Cafe.”

“Gombal ah..” kataku agak manja.

“Aku geli banget lho, waktu kamu elus tadi. Mungkin karena aku baru merasakan lagi sentuhan pria, ya man. Kalau boleh aku jujur, baru kali ini, ada cowok yang menyentuh aku
lho man. Sejak perceraian aku dengan suami satu setengah tahun yang lalu.”

“Sudahlah sis, jangan ngomongin perceraian, nanti kamu sedih. Mendingan kita melanjutkan perjalanan deh..”

Aku melanjutkan perjalanan dengan berbagai gejolak perasaan dan kenikmatan yang baru aku raih bersama Irwan. Sambil aku menyetir mobil, Irwan tidak lupa mengelus pahaku juga payudaraku.

“Sis, bagaimana kalau kita berhenti dulu di hotel. Biar kita bisa lebih tenang melakukannya.”

Aku bingung, antara mengiyakan dan tidak. Jujur saja, aku ingin merasakan lebih jauh lagi dari elusan lembutnya itu. Tapi aku ragu dan malu. Akhirnya kuputuskan, mengiyakan ajakkannya.

Sesampainya di kamar Hotel melati di sekitar Setiabudi, arman tidak memberikan kesempatan untukku beristirahat. Dia langsung memelukku dan melumat bibirku. Aku gelapan dan tidak kuasa menolaknya ketika araman mulai membuka kaos ketat unguku dan membuka celana panjangku. Aku disuruhnya duduk di atas meja.

Dengan elusan tangannya, Irwan telah membuka bra-ku yang berukuran 36B dan celana dalamku. Dia semakin beringas, bagaikan macan kelaparan. arman  mulai menciumi lubang kewanitaanku.

“Ah.. uh.. ah.. uh.. ah.. teru..s Fer.. Ah.. Enaa..k ah.. uh shh.. shh.. uh..”

Rasanya tidak terlukiskan, badanku menggeliat-geliat bagai ulat kepanasan. Lidah Irwan merojok-rojok vaginaku dan menjilat klitorisku yang sebesar kacang kedelai.

Lalu kubuka kemeja dan celana jeansnya arman. Kaget! Ternyata “barang”-nya arman sudah keluar melewati celana dalamnya. Kelihatan ujungnya memerah. Aku takut, apakah lubang kewanitaanku muat untuk “barang”-nya arman.

Sudah terasa satu jari dimasukkan ke dalam lubang kewanitaanku. Dikeluar-masukkannya jari itu dan diputar-putar. Digoyang ke kanan dan kiri. Satu jari dimasukkannya lagi. Terasa sakit, tapi nikmat. Mungkin masih penasaran, arman memasukkan jarinya yang ketiga. Dikeluar-masukkan, digoyang kiri kanan. Nikmat sekali. Sedangkan tangan kirinya membantu membuka lubang kewanitaanku untuk mempermudah memasukkan jari-jari kanannya.

“Ah.. uh.. ah.. sh.. uhh.. shh.. terus Fer.. aduh.. nggak kuat aku man.. Aku mau keluar nih..”
Akhirnya aku basah. Aku tersenyum puas.

“Sekarang gantian ya, jilatin punyaku dong Sis..” arman memohon kepadaku.

“Iya man, tapi punyamu panjang, muat nggak ya..?” jawabku.

“Coba saja dulu, sis, Nanti juga terbiasa.”

“Auh.. aw.. jangan didorong dong man, malah masuk ke tenggorokkanku, pelan-pelan saja ya.

Punyamu kan panjang.”

Sekitar lima belas menit kemudian erangan arman semakin menjadi-jadi.

“Ah.. uh.. oh.. ah.. sh.. uh.. oh.. uh.. ah.. uh..”

Kuhisap semakin kuat dan kuat, arman pun semakin keras erangannya. arman mulai ingat, tangannya bekerja lagi mengelus vaginaku yang mulai mengering, basah kembali. Mulutku masih penuh kemaluan arman dengan gerakan keluar masuk seperti penyanyi karaoke.

“Sudah dulu sis, aku nggak tahan.., masukkin saja ke punyamu ya..?” pinta arman.
Aku hanya menganggukkan kepala saja, sambil berharaf-harap cemas apakah punyaku muat atau tidak dimasuki kepunyaannya arman. Kedua kakiku diangkat ke pundak kiri dan kanannya, sehingga posisiku mengangkang. Dia dapat melihat dengan jelas kemaluanku yang kecil namun kelihatan gemuk.

Kulihat dia mengelus kemaluannya, dan menyenggol-nyenggolkan pada kemaluanku, aku kegelian. Dibukanya kemaluanku dengan tangan kirinya, dan tangan kanan menuntun kemaluannya yang besar dan panjang menuju lubang kewanitaanku. Didorongnya perlahan,

“Sreett..,” dia melihatku sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi. Mulai kurasakan ujung kemaluan arman masuk perlahan. Aku mulai geli, tetapi agak sakit sedikit. Mungkin karena lubang kewanitaanku tidak pernah lagi dimasuki kemaluan laki-laki. arman melihat aku meringis menahan sakit, dia berhenti dan bertanya.

“Sakit ya..?”

Aku tidak menjawab, hanya kupejamkan mataku ingin cepat merasakan kemaluan besarnya itu.

Digoyangnya perlahan dan, “Bleess..” digenjotnya kuat pantatnya ke depan hingga aku menjerit, “Aaauu..”

Kutahan pantat arman untuk tidak bergerak. Rupanya dia mengerti kemaluanku agak sakit, dan dia juga ikut diam sesaat. Kurasakan kemaluan arman berdenyut dan aku tidak mau ketinggalan. Aku berusaha mengejang, sehingga kemaluan arman merasa kupijit-pijit.

Selang beberapa saat, kemaluanku rupanya sudah dapat menerima semua kemaluan arman dengan baik dan mulai berair, sehingga ini memudahkan arman untuk bergerak. Aku mulai basah dan terasa ada kenikmatan mengalir di sela pahaku. Perlahan arman menggerakkan pantatnya ke belakang dan ke depan. Aku mulai kegelian dan nikmat. Kubantu arman dengan ikut menggerakkan pantatku berputar.

“Aduuhh.., siska..,” erang arman menahan laju perputaran pantatku.

Rupanya dia juga kegelian kalau aku menggerakkan pantatku. Ditahannya pantatku kuat-kuat agar tidak berputar lagi, justru dengan menahan pantatku kuat-kuat itulah aku menjadi geli dan berusaha untuk melepaskannya dengan cara bergerak berputar lagi, tapi dia semakin kuat memegangnya.

Kulakukan lagi gerakan berulang dan kurasakan telur kemaluan arman menatap pantatku licin dan geli. Rupanya arman termasuk kuat juga, berkali-kali kemaluannya mengocek kemaluanku masih tetap saja tidak menunjukkan adanya kelelahan bahkan semakin meradang.

Kucoba mempercepat gerakan pantatku berputar semakin tinggi dan cepat, kulihat hasilnya arman mulai kewalahan, dia terpengaruh iramaku yang semakin lancar. Kuturunkan kakiku menggamit pinggangnya, dia semakin tidak bergerak berputar lagi, tapi dia semakin kuat memegangnya.

Kuturunkan kakiku menggamit pinggangnya, dia semakin tidak leluasa untuk bergerak, sehingga aku dapat mengaturnya. Aku merasakan sudah 4 (empat) kali kemaluanku mengeluarkan cairan untuk membasahi kemaluan arman, tetapi arman belum keluar juga.

Kupegang batang kemaluan arman yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku.

Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh.. auh.. terus man.. auh.. Ena.man.. Ugh.. ah.. lebih cepat lagi.. ugh.. ah.. sshh.. uh.. oh.. uh.. ash.. sshh..”

“Kecepek.., kecepek.., kecepek..,” bunyi kemaluanku saat kemaluan arman mengucek habis di dalamnya.

Aku kegelian hebat, “Siska.. aku mau keluar, Tahan ya..,” pintanya menyerah.
Tanpa membuang waktu, kutarik kemaluanku dari kemaluannya, kugenggam dan dengan lincah kumasukkan bonggol kemaluan tersebut ke dalam mulutku, kukocok sambil kuhisap kuat-kuat, kuhisap lagi dan dengan cepat mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar air maninya cepat keluar.

Mulutku mulai payah tapi air mani yang kuharapkan tidak juga keluar. Kutarik kemaluan dari mulutku, arman tersenyum dan sekarang telentang. Tanpa menunggu komando, kupegang kemaluannya, kutuntun ke lubangku dengan aku mendudukinya. Aku bergerak naik turun, dan dia memegang susuku dengan erat. Tidak lama kemudian ditariknya tubuhku melekat di dadanya, dan aku juga terasa panas.

“Sreet.., sreett.., sreett..,” kurasakan ada semburan hangat bersamaan dengan keluarnya pelicin di kemaluanku, dia memelukku erat demikian pula aku.

Kakinya dijepitkan pada pinggangku kuat-kuat seolah tidak dapat lepas. Dia tersenyum puas.

“Siska.., aku baru merasakan kemaluan seorang wanita. Kamu adalah wanita pertama yang merenggut perjakaku.

Aku selama ini paling banter hanya melakukan peting saja. Sungguh luar biasa, enak gila, kepunyaanmu memijit punyaku sampai nggak karuan rasanya, aku puas banget sis..”

“Aahh kamu bohong, masa seusiamu baru pertama kali melakukan kayak beginian,” manjaku.

Dia hanya tersenyum dan kembali mengulum bibirku kuat-kuat.

“Sumpah, Sis..! Apakah kamu masih akan memberikannya lagi untukku..?” tanyanya.

“Pasti..! Tapi ada syaratnya..,” jawabku.

“Apa dong syaratnya, sis..?” tanyanya penasaran.

“Gampang saja, asal kamu bisa kuat seperti tadi. Atau nanti saya kasih pil untuk kamu ya, biar lebih kuat lagi..!”

“Oke deh.. Mandi bareng yuk, sis..” ajaknya.

Dan kami pun mandi bersama, dan sekali lagi arman memberikan kepuasan yang selama ini tidak kudapatkan selama kurang lebih satu setengah tahun.

Aku bersiap-siap pulang. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aku langsung check out mengantarkan arman pulang. Mobil keluar hotel dengan berjalan perlahan.

Sepanjang perjalanan aku berfikir, “Kok bisa-bisanya aku mmberikan sesuatu hal yang aku jaga selama ini, padahal arman baru pertama kali bertemu denganku. Sekaligus juga aku membayangkan kapan lagi aku dapat memperoleh kepuasan dari arman.”

Kini tangan arman menempel pada pahaku, dan tanganku menempel di celananya. Sesekali arman menyandarkan wajahnya ke dadaku dan jari nakal arman mulai beraksi dengan manja. Kurasakan gumpalan daging kemaluan arman mulai mengeras lagi, dia tersenyum melihatku. Akhirnya tidak terasa aku sudah sampai di sekitar jalan wahidin, dan menurunkan arman. Selanjutnya aku pulang ke rumahku di sekitar Krakatau.

batasberitaterkini.blogspot.com 
COMPARTILHAR:

+1

0 Comentario "Sekian Lama Menjanda Akhirnya Kulampiaskan Birahiku Kepada Pria Yang Baru kukenal"

Posting Komentar

Teste Teste Teste

nonton film

Teste Teste Teste

Teste Teste Teste Teste

http://i66.tinypic.com/snl8i1.gif